ALLAH itu ADA!!

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di Amerika Serikat kembali ke tanah air. Tentu sepulang lama dari Amerika ia merasa superior dengan kecerdasannya. Sesampainya dirumah, ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, ulama atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Selama ini ia belum menemukan jawabannya yang memuaskan. Setelah mencari-cari, akhirnya orang tua si pemuda mendapatkan orang tersebut. Ia seorang Kiayi di kampungnya.Setelah bertatap muka, si pemuda bertanya: “Anda siapa? Apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”
Kyai : “Saya hamba Allah. Dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.”
Pemuda: “Anda yakin? Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Kyai : “Insya Allah. Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”
Pemuda: “Oke. Saya punya tiga buah pertanyaan dan selama ini belum menemukan jawabannya yang memuaskan saya. Kalau bisa tolong Anda jawab: Pertama, kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya? Kedua, apakah yang dinamakan takdir? Ketiga, kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api juga, tentu tidak menyakitkan buat syetan karena mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba sang Kyai menampar pipi si pemuda dengan keras, “plakk….!”
Sambil meringis menahan sakit, si pemuda terheran-heran dan bertanya: “Kenapa Anda marah kepada saya?”
Sang Kyai dengan kalem menjawab: “Saya tidak marah anak muda! Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah
pertanyaan yang Anda ajukan kepada saya.”
Pemuda: “Saya sungguh tidak mengerti.”
Kyai: “Tidak mengerti ya? Nah, sekarang tolong jawab pertanyaan saya. Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda: “Tentu saja saya merasa sakit.”
Kyai: “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”
Pemuda: “Ya.”
Kyai: “Tunjukan pada saya wujud sakit itu? Mana?” Si Pemuda diam tidak bisa menjawab.
Ia bingung, lalu menjawab pelan: “Tidak bisa.”
Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan
Tuhan tanpa mampu melihat wujud-Nya.”
Sang Kiayi bertanya lagi:
Kyai : “Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda: “Tidak.”
Kyai : “Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?”
Pemuda: “Tidak.”
Kyai : “Itulah yang dinamakan Takdir.”
Si pemuda diam lagi. Pak Kiayi meneruskan.
Kyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar pipi Anda?”
Pemuda: “kulit.”
Kyai : “Terbuat dari apa pipi Anda?”
Pemuda: “kulit.”
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda: “sakit.”
Kyai : “Walaupun syetan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api juga, karena Tuhan menghendaki, maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syetan.”
Si pemuda diam seribu bahasa, tidak berkata-kata lagi.[]

*********

Memang, sekolah yang tinggi, modern dan maju belum tentu membuat orang jadi semakin tawadhu. Malah banyak yang menjadi angkuh seperti si pemuda ini. Kisah ini menggambarkan kecerdasan spiritual mengalahkan kecerdasan rasio ilmu pengetahuan modern. Kiayi kampung mengalahkan kecerdasan lulusan Barat!!

http://moeflich.wordpress.com/2007/11/21/allah-itu-ada/

Drama Detik-detik Saat Wafatnya Rasulullah SAW

“Aku menangis tidak sanggup menahan air mata membaca kisah ini. Betapa berat perasaan ini saat sang Nabi Agung dicabut ruhnya oleh sang malakul maut, bergetar perasaan menahan haru, dan betapa besar cinta Rasulullah Muhammad SAW pada umatnya. Tidak ada pemimpin di dunia ini seagung beliau. Allahumma shalli ‘ala Muhammad …!!”

Fatimah binti Rasulullah sedang diliputi kesedihan karena ayah tercintanya sedang dilanda sakit, tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam, kemudian berkata: “Bolehkah aku masuk?” tanyanya. Tanpa mengetahui siapa orang itu, Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang itu sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.
Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini wahai kekasih Allah?” Tanya Jibril lagi. “Wahai Jibril, khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya
Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”
Dan…, berakhirlah hidup sosok manusia agung dan mulia yang telah menyinari kehidupan dengan cahaya petunjuk itu, yang telah membawa umat manusia dari kegelepan kepada cahaya dan keselamatan. Mampukah kita mencintainya seperti beliau mencintai kita?
“Allaahumma Shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Al faatihi lima ughliqa wal khaatimi limaa sabaqa wanaashiril haqqi bil haqqi walhaadii ilaa shiraathal mustaqiimi wa’alaa aalihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdaarihil azhiimi…”
“Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami tercinta, Nabi Muhammad SAW, yang telah membuka apa yang tertutup dan menutup semua risalah sebelumnya. Penunjuk ke jalan yang benar, penghancur kebatilan dengan cara yang hak, dan pembela yang hak dengan cara yang hak pula. Limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepadanya, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan kepada umatnya yang dicintainya hingga akhir zaman, Amin.”
Betapa besar cinta Rasulullah kepada kita. Apa yang sudah kita lakukan sebagai wujud kita mencintainya?

http://moeflich.wordpress.com/2007/11/21/air-mata-rasulullah/

Betapa… namun…

Betapa merasa besarnya nilai uang kertas Rp.100.000 bila dibawa ke masjid untuk diinfakkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima menit, namun betapa singkatnya ketika kita dua jam nonton film, berjam-jam di depan internet bahkan semalaman chating dengan seseorang

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa, namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar atau teman tanpa harus berpikir panjang-panjang

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diberi ekstra perpanjangan waktu, namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasanya

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-Qur’an, namun betapa mudahnya membaca 100 halaman novel yang laris

Betapa senangnya orang duduk di baris depan dalam panggung hura-hura, pertandingan olah raga atau konser musik, namun lebih senang berada di baris paling belakang ketika berada di masjid

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat lima waktu, namun betapa mudahnya menyediakan waktu untuk jalan-jalan dan acara senang-senang

Betapa malasnya untuk mempelajari arti yang terkandung dalam Al-Qur’an, namun betapa mudah dan bersemangatnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa menariknya membaca koran berulang-ulang, bahkan berlangganan, namun betapa malasnya kita membaca Kitab Suci Al-Qur’an berulang-ulang.

http://www.lintasberita.com/go/745998

Obrolan Seekor Kerbau dengan Seorang Pekerja Sibuk

Pagi yang cerah sekitar pukul 06.00. Seperti biasa, petani itu mengeluarkan kerbau dari kandangnya untuk pergi membajak sawah. Dari pagi hingga siang mereka asyik bekerja sama mengaduk-ngaduk lumpur sawah. Pukul 11.30, datang istri sang petani membawa makan siang suaminya: nasi bakul, ikan asin, sambel dan lalab. Petani itu asyik makan dengan lahapnya, sementara si kerbau sahabatnya istirahat tak jauh darinya.
Tepat pukul 12.00, terdengar suara sayup-sayup mengudara dari kejauhan. Si kerbau tidak mengerti dan bertanya pada juragannya itu.
“Hhooaa….. (suaranya besar). Gan, suara apa tuh sayup-sayup enak sekali?”
“Itu suara adzan.”
“Adzan itu apa?”
“Itu seruan memanggil orang Islam untuk shalat.”
“Shalat itu apa?” Tanyanya lagi.
“Shalat itu menyembah Allah, Tuhan pencipta alam. Orang Islam melaksanakannya 5 kali sehari.”
“Ooh…” kata si kerbau.
“Agan, orang Islam?” tanyanya lagi.
“Iya Islam.” Kata petani itu cuek.
“Agan suka shalat?”
Sambil tersipu ia menjawab: “Ooh …tidak!”
“Sama dengan saya.” Kata si kerbau kalem.

Mereka meneruskan lagi kerja. Jam 14.30 mereka selesai. Ketika sedang beres-beres, terdengar lagi suara lantunan orang dari kejauhan yang juga enak didengar. Tapi kali ini suaranya lain.
“Gan, suara apa lagi tuh? Kok beda dengan yang tadi!”
“Ooh… kalau itu orang membaca Qur’an.”
“Qur’an itu apa?”
“Kitab suci petunjuk hidup umat Islam.”
“Agan suka membacanya?”
“Kebetulan tidak. Mana sempat! Siang gini kan kerja. Malam cape.”
“Sama dengan saya.” Kata si kerbau lagi kalem.
Mereka pun pulang.

Jam 18.30 sehabis magrib, dari speaker masjid dekat rumah petni itu terdengar suara orang bicara panjang lebar. Si kerbau bertanya lagi.
“Gan, kalau itu suara apa? Itu orang ngomong apa?”
“Itu pengajian di masjid.”
“Pengajian itu apa?”
“Itu orang sedang mendalami agama.”
“Bagus ya Gan?”
“Iya bagus.”
“Agan suka datang ke pengajian?”
“Kebetulan tidak. Setiap hari sibuk bekerja seperti tadi.”
“Sama dengan saya.”

Esok harinya, saat si petani lahap makan siang karena lapar, si kerbau membuka percakapan.
“Gan!” Katanya.
“Apa?”
“Walaupun binatang, saya juga ciptaan Tuhan. Rasanya, saya ingin juga mengenal Tuhan yang telah memberi saya hidup, nafas, tenaga dan makan. Tapi, apalah artinya. Saya hanya seekor kerbau. Rasanya ingin saya menyembah-Nya, berterima kasih kepada-Nya, bersyukur dan beribadah seperti orang-orang di masjid itu. Tapi, mana sempat, saya kerja terus setiap hari. Waktu habis untuk kerja. Malam cape. Saya seolah tidak ada waktu untuk mendekati Tuhan untuk beribadah kepada-Nya.”
Merasa ada yang membenarkan kesibukannya, si petani buru-buru menjawab:
“Sama dengan Saya.”
Si kerbau termenung: “Eemh… ternyata banyak manusia seperti saya. Wujudnya saja manusia, hakekatnya kerbau. Tak ada bedanya. Seperti binatang, waktunya habis hanya untuk kerja cari makan. Kesibukan jadi alasan untuk melupakan Tuhan. Banyak manusia memang tak tahu diri. Sudah mulia jadi manusia, eeh… kesadarannya tak lebih dari kerbau.”

http://moeflich.wordpress.com/2009/01/29/obrolan-seekor-kerbau-dengan-seorang-pekerja-sibuk/

Pengabdian Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu, “Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?” Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam…, kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab batang bambu itu, “Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

***

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita menjadi manusia yang berguna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, “Ini hamba-Mu ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Hamba siap menjalaninya.”

http://moeflich.wordpress.com/2008/05/10/pengabdian-sebatang-bambu/

Muhammad SAW dan Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW yang dihinanya setiap hari. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah Itu?,” tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, ”Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, ”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” ”Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.

”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Mendengar penjelasan Abubakar RA, seketika itu juga pengemis itu meledak tangisnya, sangat menyesal, dan dalam basahnya air mata ia berkata, ”Benarkah itu? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, begitu agung…. ”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

http://www.lintasberita.com/go/745998

Cinta Muslim Sejati

Suatu saat seusai perang Uhud, Saydina Umar mengecek pasukan yang tertinggal diarena perang. Saat itu umar yang tengah melihat lihat korban perang menyaksikan mayat-mayat kaum mujahidin dan pejuang Islam yang menjadi korban keganasan musuh-musuh Allah.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesosok lelaki muda yang tergolek tiada daya yang meminta minuman, karena kehausan. "Haus- haus, berilah saya minum," pintanya. Ketika Sayidina Umar bergegas untuk memberikan minuman kepada pemuda tersebut, dari arah lain terdengar suara yang sama. Allahu akbar, haus-haus. Saat itu pemuda yang terkapar itu langsung menampik pemberian Umar, dan mempersilahkan Umar memberikannya pada orang lain yang juga minta minum. "Orang itu lebih membutuhkan daripada aku," kata pemuda tersebut.

Saat itu Umar bergegas untuk memberikan minuman kepada orang yang kedua yang minta minum tadi. Ketika Ujung tempat minuman itu akan diberikan pada orang kedua, dari arah lain muncul suara rintihan yang memilukan dan minta minum juga. Orang kedua itu lantas mempersilahkan Umar untuk memberikan pada orang ketiga. Umar melangkah keorang ketiga. namun sampai ditempat itu, orang itu sudah meninggal dunia. Umar sangat sedih lalu ia melangkah keorang pertama minta minum. Sampai disana Umar melihat pemuda itu sudah menghadap ilahi. Ia bergegas kepada orangkedua. Pemandangan sama ia temukan disana. Umar tercenung. Tapi begitulah sifat sejati pejuang muslim yang lebih cinta saudaranya ketimbang dirinya sendiri

http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=77:cinta-muslim-sejati&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Rahmat Allah

Allah Azza wa Jalla tidaklah membutuhkan amal hamba-Nya. Dia memerintah hamba-Nya untuk beramal, adalah agar manusia mengakui bahwa dirinya lemah dan selalu membutuhkan pertolongan.

Pengakuan semacam itu adalah penting.

Dikisahkan ada dua orang disiksa di neraka. Kemudian Allah SWT. memerintahkan agar keduanya dikeluarkan. Setelah keduanya itu keluar, Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka :

"Apakah yang menyebabkan kalian masuk neraka ?"

"Nafsu kami, " jawab mereka.

"Bukankah telah aku larang kalian berbuat maksiat kepada-Ku ? Bukankah aku telah mengutus Rasul-Rasul-Ku dengan bukti-bukti yang nyata lagi jelas ? dan Bukankah telah aku sampaikan melalui lisan para ulama "Barang siapa yang taat akan memperoleh surga, Istana didalamnya, kesenangan, dan bidadari, sebaliknya orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka bersama Qarun, Fir'aun, dan Haman ?"

"Benar, tetapi kami tidak taat dan selalu bermaksiat kepada-Mu."

"Kembalilah kalian ke neraka dan rasakanlah siksa-Ku," perintah Allah.

Yang satu bergegas kembali, namun yang lain berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Mengapa engkau berjalan cepat-cepat ?" Tanya Allah Azza wa Jalla kepada yang pertama.

"Ya Tuhan dahulu aku selalu membangkang perintah Engkau, sekarang sudah seharusnya aku taat kepada-Mu dengan kembali masuk ke neraka." jawabnya.

"Dan kamu, mengapa kamu tidak segera kembali ke dalam neraka ? " tanya Allah kepada yang kedua.

"Aku sangat mengharap ampunan Engkau, karena tidak mungkin engkau mengembalikan kami ke dalam neraka setelah membebaskan kami darinya." jawabnya.

"Masuklah kalian berdua ke dalam surga-Ku. Masuklah karena kamu telah mentaati perintah-Ku. Dan masuklah karena kamu percaya pada rahmat dan kemurahan-Ku."

http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=134:rahmat-allah&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Do'a Anak Yang Soleh Terhadap Orang Tua

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh berbicara terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan berbicara dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan bertetangga dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak langsung melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam. Tidak lama kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu digendongnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Ada apa ini ?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian diantar lagi ke dalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya diantar lagi ke kamar.
Setelah selesai barulah dia melayani Nabi Musa. Nabi Musa bertanya "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Agama ku Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam. "Mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah orang tua kandungku. Oleh kerena mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah merubah wajah mereka menjadi babi yang buruk rupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak. Setiap hari aku berbakti kepada kedua orang tuaku seperti yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampuni. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia kembali, tetapi Allah masih belum mengabulkan.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. "'Wahai Musa, inilah orang yang akan bertetangga dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya. Orang tuanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

Allah juga berfirman lagi yang artinya: "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua orang tuanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."

Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa orang tua yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada orang tuanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan orang tua kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Walau seburuk apapun perangai kedua orang tua kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak sekali dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua orang tua kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua orang tuanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para orang tua di alam kubur.

Sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran uang, tetapi sayang seorang anak pada kedua orang tuanya ialah dengan doanya supaya kedua orang tuanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.

Amien

http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=100:doa-anak-yang-soleh-terhadap-orang-tua&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Rencana Tuhan Pasti Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih,begitu semrawut menurut pandanganku.Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil;" anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola,ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; "Allah, apa yang Engkau lakukan? " Ia menjawab: " Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet,benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Akujuga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."


http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=112:rencana-tuhan-pasti-indah&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil1.jpg, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja motor.jpgkarena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya...

http://tettystak.wordpress.com/2008/03/13/kisah-mengharukan-anak-yang-mencoret-mobil-ayahnya/

Qhisas Sahabat Atas Diri Rasulullah

Menjelang Rosululloh Saw wafat , Nabi memanggil para sahabatnya untuk berkumpul. “Wahai kaum Muslimin siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qhisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik dari pada nanti aku akan menanggung semuanya di akherat . Semua sahabat terdiam ,lalu berdirilah Sahabat yang bernama Ukasyah Ibnu Muhsin, “saya Ya Rosul….Saya akan menuntut hukuman Qhisas kepada mu Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat mencium Paha mu Saat itu engkau melecutkan Tongkat kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambungku” ucap ‘Ukasyah dengan lantang.

Baiklah Ya Ukasyah..aku kan terima hukuman Qhisas ini “Jawab Rosulululloh Saw, lalu Rosul menyuruh bilal mengambil tongkat Nya di rumah fatimah anaknya Rosululloh. Bilal bergegas menuju Rumah Fatimah untuk mengambil Tongkat Rosululloh, Apa yang akan dilakukan Ayahku dengan tongkatnya wahai bilal ” Tanya Fatimah. “Ada seoarang sahabat yang akan melakukan Qhisos Kepada Rosulululloh” Jawab Bilal. Dengan nada Marah Fatimah menjawab ” Siapa gerangan yang tega mengqhisos kepada Rosululloh “!! . Bilal tidak menjawab dan bergegas pergi untuk menyerahkan tongkat tersebut Kepada Rosululloh SAW.

Lalu Rosululloh Saw menyerahkan tongkat tersebut kepada Ukasyah bin muhsin, untuk segera melakukan qhisas terhadap Rosulululloh Saw. Lalu tiba-tibalah berdirilah Sahabat Abu bakar dan Umar, “Hai Ukasyah biar aku saja yang menggantikan Rosululloh untuk di qhisas kau pilih bagian mana saja sesukamu untuk kau pukul tongkat itu ke tubuhku “Kata Abu bakar yang sejak tadi menahan amarah karena tidak tega melihat rosululolloh akan di sakiti. “Jangan Hai Abu bakar Alloh telah menempatkan kedudukan dan niatmu di akherat nanti..duduklah ” Jawab Rosululloh. Bangkitlah Sayyidina Ali” Aku kemana-mana selalu bersama rosululloh, maka qishas lah aku …jangan kau qhisas Rosulullloh ” Kata Sayyidina Ali RA. “duduklah Hai Ali …Alloh juga telah menempatkan keduduan dan Niatmu ” Jawab Rosululloh. Tampilah cucu-cucu kesayangan Rosululloh Hasan dan Husein ditengah kerumunan Sahabat ” Kamu tahu kami adalah cucu-cucu rosululoh, biar kami saja yang kau qhisas itu sama saja dengan kau mengqhisas rosululloh ” kata Hasan husein .”duduklah kalian Wahai dua bola mataku.” kata rosululloh.

Suasana begitu tegang dan mengharukan ,karena semua sahabat tidak tega Manusia suci yang mereka cintai akan di cambuk dengan Tongkat oleh Ukasyah. Lalu Ukasyah meminta kepada rosululoh untuk membuka bajunya” Wahai Rosululloh sewaktu kau memukulku dengan tongkat, waktu itu aku sedang tidak pakai baju jadi aku minta kepada engkau untuk melepaskan Bajumu” kata Ukasyah. Lalu Rosululloh membuka bajunya terlihatlah Tubuh rosululloh yang putih bersih memancarkan cahaya, tiba-tiba Ukasyah memeluk tubuh putih tersebut sambil menciumnya dengan linangan air mata ukasyah yang menempel di tubuh rosululloh sambil berkata” Ya rosululloh siapa yang tega memukulmu…aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuh sucimu agar tubuhku bisa terlindungi dari jilatan api neraka” Para sahabat yang sejak tadi manangis meyaksikan peristiwa tersebut berkumandang takbir Alloh huakbar…’ Wahai para sahabatku kalau kau ingin melihat penghuni surga dialah orangnya “kata rosululloh Saw sambil memeluk Ukasyah.

http://alhabaib.blogspot.com/2010/01/sahabat-nabi-yang-melakukan-qhisos.html

Istri Umar bin Khatab Cerewet??

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umarbin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengankecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-lakiitu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel,marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar.Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umardiam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelakiitu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupunlawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanyamendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkanpandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya,membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuatdarah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sangraksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagilaki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalahistri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azabyang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia danakhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaranapi, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dariliukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari,bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya kelangit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari ituistri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelangmalam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul danterkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkanuang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga,memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkandarah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, denganpenuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yangsudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihararumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan halitu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena(mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin harisemakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapiberpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar.Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penatabusana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yangpantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila adayang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri.Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilanbulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yangmenggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunasagar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah denganpertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunasmembanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yangmembuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depantak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras,beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi.Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayurasam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayammelambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihianggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, danmemilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaranbumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupunterkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istrisi juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaikuntuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.



Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinyangomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumahtangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari apineraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak,menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri,tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala celadan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya,barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hinggatak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia takhanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagikeluarganya. [Diolah dari Cahaya Iman, edisi kamis, 30 November 2006-11-30]

http://www.khabarislam.com/istri-umar-bin-khatab-cerewet.html

Mandikan Aku, Bunda!

Saya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya.

Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.

Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.

Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.

Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." n itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.

Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "DAPAT MEMAHAMI" orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. "ALIF INGIN BUNDA MANDIKAN." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya.

Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "BUNDA, MANDIKAN ALIF" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.

Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.

Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " INI BUNDA LIF, BUNDA MANDIKAN ALIF " Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " INI SUDAH TAKDIR, IYA KAN ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ?". Saya diam saja mendengarkan.

" INI KONSEKUENSI SEBUAH PILIHAN." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani tertunduk. "AKU IBUNYAAAAA.....!!!" serunya kemudian, "BANGUNLAH LIF, BUNDA MAU MANDIKAN ALIF. BERI KESEMPATAN BUNDA SEKALI SAJA LIF". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah. Air mata kesedihan menyirami pusara Alif, putra satu-satunya.

~Nasi telah jadi bubur, yang berlalu tak pernah kembali lagi, penyesalan selalu datang terlambat~